Sepakbola...ketika kita mendengar kata itu yang kita bayangkan adalah kegembiraan, sorak-sorai penonton, kemeriahan, dan masih banyak lagi hal-hal yang menggambarkan keseruan dari sebuah olahraga yang bernama sepakbola. Tetapi bagaimana dengan sepakbola di negeri kita tercinta ini? Kita tahu bahwa kita punya organisasi yang mengatur sepakbola di Indonesia, yaitu PSSI sebuah organisasi yang lebih tua dari umur Republik ini sendiri...tapi sayangnya PSSI lebih banyak dihujat daripada disanjung bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Tentunya tidak ada asap kalau tidak ada api. Untuk apinya kita tidak akan membahas itu sekarang, mungkin lain kali...oke sekarang kembali kepada topik semula kenapa saya memberi judul Sepakbola salah urus? Hal ini (ini merupakan pendapat pribadi berdasarkan apa yang saya kumpulkan dari obrolan yang pernah saya lakukan) merupakan ketidakmampuan atau bisa juga disebut ketidakmauan dari PSSI sendiri. Sebagai organisasi yang notabene merupakan organisasi non profit atau nirlaba PSSI lebih fokus kepada pencarian laba daripada fokus kepada pembinaan dari olahraga itu sendiri. Hal ini diperkuat dengan dibentuknya sebuah badan yang diberi nama PT. Liga Indonesia. Apa yang salah dengan dibentuknya badan tersebut? tentu saja tidak ada yang salah kalau kita merujuk kepada FA Inggris yang juga punya lembaga sejenis yang disebut Premiere League. Oke saya mungkin kurang tepat jika membandingkan lembaga yang sudah maju dengan yang masih berkembang atau bisa disebut masih belajar. Tetapi poin saya adalah FA Inggris itu punya Premier League tetapi mereka tetap mengatur dan menjalankan liga yang ada dibawah Premiere League, kalau kita rujuk kepada link ini pada panel sebelah kiri bisa kita lihat berapa banyak liga yang dijalankan oleh FA Inggris. Tetapi kalau kita lihat pada link ini maka akan tampak perbedaan yang mencolok.
Perlu diketahui, di Indonesia kasta liga itu hanya ada 3 : Indonesia Super League, Divisi Utama, dan terakhir Liga Nusantara yang merupakan gabungan antara 2 divisi terendah. Bisa dibayangkan untuk ukuran negara sebesar Indonesia hanya ada 3 kasta kompetisi. Kompetisi dengan jumlah peserta terbanyak adalah Liga Nusantara. Dengan banyaknya jumlah peserta, seharusnya Liga Nusantara ini banyak menyedot animo masyarakat dan tentu saja bisa mendatangkan profit. Tetapi karena keruwetan dalam mengatur, dan ketidak profesionalan dari tim peserta Liga Nusantara maka PSSI mengembalikan pengaturan Liga Nusantara kepada Asosiasi Provinsi dan Asosiasi Kabupaten. Dengan kata lain PSSI lepas tangan atas persoalan LN.
Bisa dimaklumi alasan dari PSSI soal itu, tetapi tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan. Lantas bagaimana nasib dari kompetisi LN? bagaimana pula nasib dari para pemain dan para pengurus klub yang tergabung di LN?
